Minggu, 12 Februari 2012

Tentang Jihad, Pengertian dan Ketidakpuasannya

Tema jihad agaknya tidak pernah kering untuk diskusikan. Lebih-lebih bila dihubungkan dengan pergumulan cara pandang kalangan muslim sendiri maupun diluar muslim dalam memahami substansi ajaran Islam. Kata jihad seolah dipahami “anker”, sarat dengan pemahaman yang serba fisik, kekerasan dan sikap-sikap insinuatif.

Jihad disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 41 kali. Tema ‘jihad’ itu sendiri berasal dari kata kerja ‘jahada’, berarti usaha, upaya. Derivasinya, jahadai, yujahidu, jihad wa mujahadah. Maka, membicarakan jihad berarti membicarakan derivasi atau musytaqah-nya, yaitu ijtihad dan mujahadah. Baik jihad maupun mujahadah berasal dari satu akar kata yang bermakna kerseriusan dan kesungguh-sungguhan.

Jadi, ber-‘jihad’ adalah membangun atau mengupayakan sesuatu yang sifatnya fisik maupun non-fisik. Sebutan lain, yakni ijtihad, berarti usaha membangun sisi intelektual manusia, seperti ijtihad para ulama atau kiai dalam forum bathsul masail. Sementara mujahadah berarti upaya sungguh-sungguh membangun spiritualitas manusia. Dalam perkembangannya kemudian, jihad mengarah pada pengertian tertentu yang menekankan sesuatu yang sifatnya fisik atau material. Sedangkan ijtihad dan mujahadah penekanannya lebih kepada non-fisik atau immaterial. Masing-masing dari ketiganya ini menempati nilai dan posisi tersendiri dalam Islam. Dalam tradisi kesufian misalnya, ketiga-tiganya akan membawa manusia pada tingkatan yang disebut “insan kamil”.
Dari ketiga kata tersebut diatas, ternyata kata ‘jihad’ mendapatkan perhatian lebih dibanding dua kata lainnya. Hanya saja pengetahuan yang terbatas akan referensi Islam mengakibatkan tema jihad dipahami sebagai sebuah gerakan fisik yang berkonotasi kekerasan, kekejaman, kebrutalan, dan bahkan pertumpahan darah. Trend pemaknaan jihad seperti ini makin diperparah dengan kemunculan beberapa tragedi kemanusiaan yang diklaim sebagai akibat dari gerakan “Islam garis-keras”. Opini dunia pun mengarah kepada Islam. Islam sebagai agama rahmah lil-‘alamin, agama penabur kasih bagi seluruh alam, lagi-lagi menjadi tergugat.

Meski demikian, masing-masing dari sebutan jihad, ijtihad maupun mujahadah dalam implikasinya memiliki kekuatan dan cakupan wilayah pembahasannya yang berbeda-beda. Jihad merupakan upaya serius dan sungguh-sungguh secara fisik dan material, sedangkan ijtihad lebih ditekankan pada pencurahan rasion (akal) yang dilakukan oleh para mujtahid-ulama dalam menimba hukum-hukum agama maupun dalam menemukan teori-teori baru di dalam semua disiplin ilmu. Sementara mujahadah merupakan impelementasi upaya bersungguh-sungguh secara ruhani yang nantinya dikembangkan dalam dunia tasawuf guna meraih maqamat dan ahwal (tahapan-tahapan atau stasiun-stasiun spiritual) bagi kalangan sufi. Tulisan ini mengangkat sebutan jihad secara lebih luas. Namun, dari ketiganya menurut Nabi Muhammad saw., mujahadah-lah yang paling berat. Perjuangan dalam mujahadah selain bersifat privacy, yakni yang sifatnya individual, dalam menghadapi dirinya sendiri (seperti hawa nafsu), juga mengharuskan tingkat dan waktu perjuangan secara kontinyu sepanjang hayat. Tentu dengan fokus pada dimensi sosial-kemanusiannya.

Untuk memperluas wacana kita dalam diskursus “jihad”, dapat kita rujuk kepada salah satu kita yang selalu dikaji di lingkungan pesantren. Yakni kitab Fathul Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibari (w. 1522), salah seorang ulama dari lingkungan mazhab Syafi’i.  Menurutnya, “al-jihad fardhu kifayah marrah fi kulli ‘am.” Bahwa jihad itu hukumnya fardhu kifayah dalam setiap tahun. Artinya, kalau sudah ada yang melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban itu bagi yang lain. Kemudian ditambahkan, jihad itu ada empat macam: 

1. Itsbat wujudillah
Menegaskan eksistensi Allah SWT. dimuka bumi, seperti melantunkan azan untuk salat berjamaah, takbir serta berbagai macam zikir dan wirid.

2. Iqamah syari’atillah
Menegakkan syariat dan nilai-nilai agama, seperti salat, puasa, zakat, haji, nilai-nilai kejujuran, keadilan, kebenaran, dan sebagainya.

3. Al-qital fi sabilillah
Berperang dijalan Allah. Artinya jika ada komunitas yang memusuhi kita, maka dengan segala argumentasi yang dibenarkan agama kita bisa berperang sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan Allah.

4. Daf’u dharar ma shumin musliman kana au dzimmiyan
Yakni mencukupi kebutuhan dan kepentingan yang harus ditanggung oleh pemerintah, baik itu muslim maupun kafir dzimmi (yakni yang termasuk kaum Nasrani, Majusi, Yahudi, serta pemeluk-pemeluk agama lainnya yang bukan musuh).

Poin terakhir ini menekankan makna jihad sebagai upaya mengayomi dan melindungi orang-orang yang berhak mendapatkan perlindungan, baik muslim atau non-muslim. Cara pemenuhan kebutuhan tersebut, menurut penulis Fathul Mu’in, diantaranya dengan mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan bagi rakyatnya. Rinciannya sebagai berikut:

1. Al-Ith’am (jaminan pangan), yakni mengupayakan agar masyarakat mendapatkan hak kelangsungan hidup, seperti sembako, dengan harga terjangkau, santunan bagi masyarakat terlantar, subsudi bagi yang tidak mampu, dan lainnya.

2. Al-Iksa’ (jaminan sandang), yaitu memperjuangkan agar masyarakat mampu memperoleh kebutuhan sandang secara cukup, seperti harga tekstil terjangkau, bahan baku tekstil tercukupi, tersedianya pakaian yang sesuai dengan kemampuan masyarakat, dan lainnya.

3. Al-Iskan (jaminan papan), yaitu mengusahakan agar masyarakat mampu mendapatkan kebutuhan tempat tinggal, seperti pengadaan rumah sederhana dengan harga terjangkau, melindungi masyarakat dari jerat kredit memberatkan dari para pengembang real estate, dan lainnya.

4. Tsaman as-dawa’ (jaminan obat-obatan), yakni mengupayakan agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya atas obat-obatan. Masyarakat diberi kesadaran bahwa tindakan preventif perlu dilakukan agar diri kita terhindar dari sakit dan ketergantungan kepada obat-obatan, seperti memasyarakatkan obat generik, sosialisasi gaya hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan, subsidi obat murah bagi masyarakat tidak mampu, dan lainnya.

5. Ujrah at-Tamridh (jaminan kesehatan), yakni mengusahakan agar orang-orang yang jatuh sakit tidak terbebani oleh ongkos berobat yang tidak terjangkau. Masyarakat yang terserang penyakit harus mendapatkan layanan yang cukup hingga sembuh. Jihad ini pada tataran aplikasi dapat berbentuk subsidi bagi penderita penyakit, pengadaan puskesmas dengan layanan yang baik dan murah, pengobatan gratis bagi yang tidak mampu, dan lainnya.

Lima jaminan kebutuhan dasar inilai yang kemudian dikenal dengan “mabadi’ khaira ummah”, prinsip-prinsip dasar kemaslahatan umat. Prinsip-prinsip ini menjadi orientasi perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) kini, sebagaimana yang diteladankan oleh Nabi Muhammad saw. Selama berada di Madinah.

Sebagai kelompok terbesar umat Islam di Indonesia, NU memposisikan kelima garapan tersebut sebagai prinsip dasar yang dapat membawa manusia ke dalam kebaikan, toleransi, inklusifisme, dan moderatisme. Pemahaman NU tersebut akan menghindarkan umat Islam untuk memaknai jihad secara sempit dan kaku. NU juga meyakini bahwa mengamalkan jihad berarti memberikan nilai positif kepada diri pribadi, sebagaimana firman Allah, “waman jahada fa-innama yujahidu li-nafsih”, yakni “barang siapa yang berjihad sesungguhnya dia telah berjihad untuk dirinya sendiri.”

Dengan demikian jihad pun akan melahirkan kehidupan yang harmoni dan dapat pula diharapkan dalam mewujudkan keadilan. Seperti yang ditegaskan Rasulullah saw., “al-yaum yaum al-marhamah”, hari ini adalah hari kasih sayang.

Jadi, bisa disimpulkan kemudian, bahwa pemaknaan terhadap konsep jihad fi sabilillah tidak bisa berdiri terpisah dengan konsep ijtihad dan mujahadah. Dengan penyatuan ketiga unsur tersebut, berarti pencapaian terhadap keseimbangan yang menggambarkan kepenuhan diri manusia baik sebagai individu maupun masyarakat. Begitu pula, dalam koherensinya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Jelas, ketiga komponen tersebut akan memberikan dampak yang sangat konstruktif. Sebab lahan garapan dalam hidup ini sangat luas yang membutuhkan pengolahan unsur-unsur kedirian manusia dan itu hanya melalui penyatuan ketiga hal tersebut.

Walhasil, jihad merupakan upaya pencurahan tenaga secara fisik yang diproyeksikan untuk mengimplementasikan pesan-pesan Tuhan di muka bumi guna menegaskan tugas manusia sebagai khalifah-Nya. Berperang dengan angkat senjata hanyalah salah satu dari ribuan macam jihad. Itu pun disertai persyaratan yang harus dipenuhi secara ketat dan syar’iy dalam berperang. Karenanya, jika saat ini muncul gelombang massa “Islam” yang ingin berjihad ke suatu daerah, seperti dulu ke wilayah Maluku, Poso, dan lainnya, sebenarnya usaha tersebut justru bertolak belakang dengan esensi jihad itu sendiri.

Jadi, sebenarnya Islam memaknai kata jihad dengan arti yang sangat luas. Jihad sesungguhnya tidak lepas dari bingkai visi Islam itu sendiri sebagai agama kedamaian. Dengan kata lain, jihad mendorong umat Islam untuk bekerja keras dan membangun etos kerja, dan juga menuntut mereka memiliki kepedulian dan kepekaan sosial yang tinggi.

Sumber Pustaka

Baso, Ahmad, “NU Studies: Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal” (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006) hal. 419-423

Next Previous Home
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons